Beauty is in the eye of the beholder
Punya Gingsul??Kulit item?Idunk bengkok?Kenapa harus diubah?
Beberapa hal jaman sekarang ini mudah banget diubahnya,Bayangin aja, biasanya waktu di interview gue sering banget ditanya, “gak mau lasic kamu?”Emang seh mata gue minus 8, but i like it wearing glasses, and i am having no problem with these blurry eyes…Keh keh keh….
Liat foto erika sawajiri ini, dia model….Tapi liat itu gigi…ancur banget….taringnya gak ada di sebelah kiri dan berantakan banget….But she still smile and not changing those cute teeth
Tapi kenapa seh semuanya itu harus diubah semerta-merta karena fashion?
Pake kacamata mungkin di abad 19 punya sisi exoticnya sendiri yah dengan kacamata yang dijepit di mata…kesannya bangsawan…Tapi lantas di awal tahun 1950 pakai kacamata itu dianggap sangat jelek dimana rata-rata pada pake “kaca muka” emang bukan pake kacamata….Tapi di awal abad 21 ini, pake kacamata itu bukan sesuatu yang buruk lagi…Bahkan banyak wanita yang bilang ke gue, “Gue suka ama cowok pake kacamata”….
Fashion sendiri terus berubah….Kenapa kita harus berubah demi fashion…..
Fashion sendiri terbentuk karena satu hal, yaitu karena setiap orang ingin terlihat indah dan unik yang mencerminkan jati diri seseorang dan jelas saja bukan karena seseorang ingin terlihat “sama” antara satu dan yang lainnya….
Di jepang sendiri, trend kulit putih dah mulai banyak kendur….
Beberapa model dah berkulit hitam…Tapi mereka tetep cute….Now this is what i called fashion…Not some “Conformity (keseragaman)” agar terlihat indah….
Why should you change yourself when you were born that way??
Dan kenapa juga harus ngikutin ponds putih bersinar….Karena tanpa putih pun, seseorang?dapat bersinar….Bahkan mungkin lebih terang….
Bukan tentang “sama”, tapi tentang “indah” dan “kepribadian”…
Kita lagi ngomongin fashion kan?
Atau Indah artinya sama dengan fashion?
PS:Untuk pacarku yang gendut dan hitam manis….I love the way you are darling….Ganguro rocks….PS2:Related links,Cewek yang dah bersuami ini juga punya gingsul yang menarik…Sayang terlalu putih…Keh keh keh….Mitarima Karolina?PS3:Dewi PersikTernyata
Kembennya melorot dua?tiga?kali?
Doyan gak sadar ama belahan dadanya…
Kenapa?
Kenapa gak ada yang ngasih tau maksud lo?
HOKIDAHI
Keseragaman Fashion : Hilangnya Identitas Diri
Di Indonesia fashion merupakan kumpulan dari banyak fads, yaitu sesuatu yang populer dengan cepat namun lantas kehilangan kepopulerannya dengan cepat pula. Mulai dari trend fashion rambut dan kemeja emo sampai trend fashion rambut gimbal dan celana cutbrai tahun 70an semuanya cepat datang dan cepat pergi. Semuanya menggunakan fashion hanya karena ingin diterima oleh masyarakat atau karena ingin diakui bahwa dirinya adalah seorang yang fashionable. Padahal fashion sendiri merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan diri sendiri melalui cara berpakaian bukan hanya untuk menunjukkan status diri, baik itu social class maupun hanya menunjukkan bahwa dirinya adalah seseorang yang fashionable.
Seingkali kita melihat wanita cantik berpakaian modis melenggang di mall dengan baju, tas, dan sepatu bermerk yang serasi. Dan kemungkinan kita akan berpikir bahwa wanita ini adalah wanita yang fashionable. Namun, apakah wanita ini memiliki gaya (style) sendiri dalam pemilihan baju-bajunya ataukah ia tidak mengekspresikan apapun dalam mode bajunya. Yves Saint Laurent pernah berkata, “Fashion fades, Style is eternal”. Sebuah perkataan yang simpel namun penuh arti.
Tidak jarang kita terjebak dalam pemikiran bahwa untuk tampil fashionable maka baju yang kita miliki harus sesuai dengan fads yang berlaku dimasyarakat. Jika rambut gimbal lagi ngetrend maka kita harus tampil dengan rambut gimbal tersebut agar bisa dibilang fashionable. Padahal untuk tampil fashionable yang kita perlukan adalah tampil dengan modis dan bukannya mengikuti fads. Seakan masyarakat Indonesia telah lupa bahwa fashion merupakan sebuah ekspresi diri kita sendiri kepada orang lain atau dalam bahasa Yves Saint Laurent, masyarakat pada umumnya tidak memiliki style (identitas diri).
Berbeda dengan negara yang tidak memiliki social class yang terlalu timpang seperti negara jepang, fashion bukanlah hanya sebagai pembuktian diri bahwa seseorang berada di social class tertentu. Negara seperti jepang memiliki street fashion seperti shibuya dimana orang-orang berpakaian dengan baju-baju homemade mereka. Atau dandanan Elegant Gothic Lolita yang terlihat seperti era victorian di Inggris merupakan salah satu dandanan yang berasal dari street fashion di jepang. Menurut mereka style itu lebih penting daripada hanya sekedar fashion yang terus berubah sepanjang masa.
Memang kapitalisme dari industri fashion sendirilah yang menghancurkan gaya fashion dari setiap individu. Seakan mereka ditawari sebuah “topeng” dan siapapun yang memakainya akan terlihat keren dan fashionable. Setiap perusahaan di industri fashion menawarkan iming-iming yang berbeda satu dan yang lainnya. Mulai dari menawarkan image eksklusif sampai image surfer dan setiap image diciptakan agar produk tersebut sangat diingini oleh target market mereka. Hal ini menghilangkan style dan identitas diri dari setiap individu dan membuat produk tersebut menjadi fads demi keuntungan para pelaku industri fashion.
Para fashionista atau fashion victim, sebutan bagi orang yang sangat mengikuti trend fashion, ini dirayu untuk mengeluarkan sejumlah uang agar ia dapat terus disebut fashionable dan berpenampilan trendy. Padahal jika seseorang telah memiliki style tertentu dalam berpakaian, orang tersebut tidak harus lagi terpaku pada image sebuah merek atau mendewa-dewakan sebuah merek. Karena merek tertera dibelakang baju atau celana dan merek hanyalah sebuah kata-kata yang dilebih-lebihkan.
Jika seseorang telah memiliki style maka orang tersebut tidak akan lagi perduli apakah jeansnya dari merek tertentu atau tidak. Ia hanya peduli apakah gaya berpakaiannya sesuai dengan style dimana ia mengekspresikan dirinya lagi. Bagaimana kalau kita hentikan untuk mengejar-ngejar umpan yang dilemparkan oleh para pelaku industri fashion di negara Indonesia ini? Bagaimana kalau mulai detik ini kita membebaskan diri untuk mengekspresikan diri tidak lagi melalui merek fashion tapi hanya melalui sebuah style?
November 23rd, 2007 at 7:56 am
tes tes tes
November 23rd, 2007 at 7:59 am
Bisa koment kok mit
November 26th, 2007 at 1:36 am
Tes
November 26th, 2007 at 1:43 am
Tes..
lagi…
November 26th, 2007 at 1:43 am
Tes… Juga…
Gw kan kyoko Fukada zhar ( menurut myheritage.com ) Shishishishi…
November 27th, 2007 at 3:56 am
eehehehee… nice topic..
sekarang kekna kedewasaan fashion juga berhubung dengan penerimaan diri..
March 28th, 2008 at 12:25 am
woow… gw suka postingannya.. salam kenal zhar? or aditya? hehe..
gw lagi search industri fashion, malah kesini.. btw, yang pegang2 dewi persik itu mas2 yang pake baju ijo ya??? ko dy mukanya senyum2 suwe gitu sih.. hahaha..
gud luck, n nulis terus ya.. cu
September 3rd, 2008 at 2:30 am
insyaffffff mba.
jngn ska mnghmbr aurat.harammmmmmm.
d azab br tau rs lho.
x.x berkrdung biar d trm msyrkt.msyrkt yg mnrm mba saat ini cm msyrkt yg g tau hkm brpkaian sbgai muslim.
ingattttttttt azal.
taubat dong kak dewi sblm kaka d sksa lhir batin
wassalam.
September 5th, 2008 at 12:37 pm
insaf lah wahai wanita…………….
May 9th, 2009 at 1:44 am
opo ki….blog e elek tenan . fuck !!!!!!!!!!!!!!!!!!!