<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Bayar Pajaknya Awasi Penggunaannya!</title>
	<atom:link href="http://zharaditya.com/blogs/2008/02/09/bayar-pajaknya-awasi-penggunaannya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://zharaditya.com/blogs/2008/02/09/bayar-pajaknya-awasi-penggunaannya/</link>
	<description>Which one is the real me?</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 17:34:24 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Przedbor7136</title>
		<link>http://zharaditya.com/blogs/2008/02/09/bayar-pajaknya-awasi-penggunaannya/comment-page-1/#comment-76616</link>
		<dc:creator>Przedbor7136</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 12:03:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://zharaditya.com/blogs/2008/02/09/good-bye-psychosist/bayar-pajaknya-awasi-penggunaannya/#comment-76616</guid>
		<description>I wish to get across my gratitude for your kindness giving support to those individuals that need guidance on in this content. Your very own commitment to getting the message throughout appears to be surprisingly practical and has always encouraged people like me to achieve their dreams. Your amazing warm and helpful facts implies much a person like me and far more to my colleagues. Thank you; from all of us.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>I wish to get across my gratitude for your kindness giving support to those individuals that need guidance on in this content. Your very own commitment to getting the message throughout appears to be surprisingly practical and has always encouraged people like me to achieve their dreams. Your amazing warm and helpful facts implies much a person like me and far more to my colleagues. Thank you; from all of us.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: cuwid</title>
		<link>http://zharaditya.com/blogs/2008/02/09/bayar-pajaknya-awasi-penggunaannya/comment-page-1/#comment-5771</link>
		<dc:creator>cuwid</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 16:29:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://zharaditya.com/blogs/2008/02/09/good-bye-psychosist/bayar-pajaknya-awasi-penggunaannya/#comment-5771</guid>
		<description>subsidi bbm ditarik, katanya tidak tepat sasaran karena yg banyak beli bensin tuh orang kaya. bener gak sih? persentase orang kaya di indonesia neh brp?

coba liat selengkapnya di sini:
http://jamil.niriah.com/2008/06/29/penyesatan-fakta/

...

Dalam kasus mutakhir yaitu kenaikan harga Premium, Solar dan Minyak Tanah, jika kita amati banyak terjadi penyesatan fakta. Kenaikan harga itu tidak mau disebut kenaikan harga, tetapi disebut pengurangan subsidi BBM. Padahal hakikatnya adalah kenaikan harga BBM.

Juga dikatakan kenaikan itu untuk menyelamatkan APBN agar perekonomian nasional selamat. Padahal dalam APBN 2008 dinyatakan, APBN itu hanya 20 % dari PDB atau dengan kata lain hanya 20 % dari kue perekonomian nasional. Sementara dengan kenaikan harga BBM yang terkena dampak negatifnya adalah perekonomian nasional seluruhnya. Artinya untuk menyelamatkan yang 20 % itu, justru 80 % dari perekonomian nasional terkena dampak negatifnya.

Dikatakan, jika kalau subsidi BBM mendorong pemborosan. Faktanya, konsumsi BBM Indonesia berada di urutan 116 dari negara-negara di dunia. Singapura yang BBM-nya tidak disubsisi, justru berada di ranking 1 konsumsi BBM dunia.

Diantara alasan kenaikan harga BBM itu karena subsidi BBM hanya dinikmati oleh orang kaya yang diidentikkan dengan pemilik mobil pribadi. Padahal jumlah pemilik mobil mewah hanya &lt; 5 % (&lt; 10 juta). Faktanya, BBM jelas dipakai oleh semua orang termasuk seluruh orang miskin. Bukankah BBM itu juga dipakai oleh sopir bus, metromini, mikrolet, angkot, sopir truk pengangkut barang, nelayan, para penumpang angkutan umum (bus, metromini, mikrolet, angkot, dsb) yang mereka itu semuanya bukan pemilik mobil pribadi atau bukan orang kaya. Dengan kenaikan harga BBM, harga-harga barang naik, akibatnya dirasakan oleh semua orang termasuk orang yang tidak pernah naik kendaraan (kalau ada) karena barang-barang itu diangkut dan didistribusikan dengan kendaraan pengangkut yang menggunakan BBM.

Di sisi lain, subsidi yang jelas hanya dinikmati orang kaya tetap dipertahankan. Impor gandum, PPn-nya dibayar pemerintah, jelas subsidi itu lebih dinikmati pengusaha dan mereka adalah orang kaya (malah mungkin super kaya).

Lebih dari 600 triliun uang dikucurkan untuk rekapitulasi Bank. Yang paling banyak menikmati adalah para pemilik Bank itu dan mereka adalah orang-orang yang sangat kaya. Malah mereka yang ngemplang dana rekap itu begitu mudah dimaafkan dan dianggap lunas. Jika kepada mereka “pemerintah” begitu dermawan, kenapa untuk subsidi BBM yang dinikmati masyarakat kebanyakan pemerintah terlihat begitu berat dan pelit?

Jadi kita harus tetap hati-hati dan waspada terhadap suatu informasi yang kita terima.  Kita harus tetap berpikir jernih, obyektif, kritis dan tidak mudah terjebak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>subsidi bbm ditarik, katanya tidak tepat sasaran karena yg banyak beli bensin tuh orang kaya. bener gak sih? persentase orang kaya di indonesia neh brp?</p>
<p>coba liat selengkapnya di sini:<br />
<a href="http://jamil.niriah.com/2008/06/29/penyesatan-fakta/" rel="nofollow">http://jamil.niriah.com/2008/06/29/penyesatan-fakta/</a></p>
<p>&#8230;</p>
<p>Dalam kasus mutakhir yaitu kenaikan harga Premium, Solar dan Minyak Tanah, jika kita amati banyak terjadi penyesatan fakta. Kenaikan harga itu tidak mau disebut kenaikan harga, tetapi disebut pengurangan subsidi BBM. Padahal hakikatnya adalah kenaikan harga BBM.</p>
<p>Juga dikatakan kenaikan itu untuk menyelamatkan APBN agar perekonomian nasional selamat. Padahal dalam APBN 2008 dinyatakan, APBN itu hanya 20 % dari PDB atau dengan kata lain hanya 20 % dari kue perekonomian nasional. Sementara dengan kenaikan harga BBM yang terkena dampak negatifnya adalah perekonomian nasional seluruhnya. Artinya untuk menyelamatkan yang 20 % itu, justru 80 % dari perekonomian nasional terkena dampak negatifnya.</p>
<p>Dikatakan, jika kalau subsidi BBM mendorong pemborosan. Faktanya, konsumsi BBM Indonesia berada di urutan 116 dari negara-negara di dunia. Singapura yang BBM-nya tidak disubsisi, justru berada di ranking 1 konsumsi BBM dunia.</p>
<p>Diantara alasan kenaikan harga BBM itu karena subsidi BBM hanya dinikmati oleh orang kaya yang diidentikkan dengan pemilik mobil pribadi. Padahal jumlah pemilik mobil mewah hanya &lt; 5 % (&lt; 10 juta). Faktanya, BBM jelas dipakai oleh semua orang termasuk seluruh orang miskin. Bukankah BBM itu juga dipakai oleh sopir bus, metromini, mikrolet, angkot, sopir truk pengangkut barang, nelayan, para penumpang angkutan umum (bus, metromini, mikrolet, angkot, dsb) yang mereka itu semuanya bukan pemilik mobil pribadi atau bukan orang kaya. Dengan kenaikan harga BBM, harga-harga barang naik, akibatnya dirasakan oleh semua orang termasuk orang yang tidak pernah naik kendaraan (kalau ada) karena barang-barang itu diangkut dan didistribusikan dengan kendaraan pengangkut yang menggunakan BBM.</p>
<p>Di sisi lain, subsidi yang jelas hanya dinikmati orang kaya tetap dipertahankan. Impor gandum, PPn-nya dibayar pemerintah, jelas subsidi itu lebih dinikmati pengusaha dan mereka adalah orang kaya (malah mungkin super kaya).</p>
<p>Lebih dari 600 triliun uang dikucurkan untuk rekapitulasi Bank. Yang paling banyak menikmati adalah para pemilik Bank itu dan mereka adalah orang-orang yang sangat kaya. Malah mereka yang ngemplang dana rekap itu begitu mudah dimaafkan dan dianggap lunas. Jika kepada mereka “pemerintah” begitu dermawan, kenapa untuk subsidi BBM yang dinikmati masyarakat kebanyakan pemerintah terlihat begitu berat dan pelit?</p>
<p>Jadi kita harus tetap hati-hati dan waspada terhadap suatu informasi yang kita terima.  Kita harus tetap berpikir jernih, obyektif, kritis dan tidak mudah terjebak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

