BLT dan Cerita Nabi

May 30th, 2008 by Zhar Aditya (3) Good bye Psychosist

Cerita ini gue denger pas gue masih kecil. Jadinya?mungkin gue agak lupa cerita aslinya seperti apa. Tapi ini juga yang mengubah pandangan gue untuk sedekah sama fakir miskin.

Ada sahabat nabi yang miskin, suatu ketika dia meminta sedekah ke nabi. Hari pertama ia memberikan sedekah itu. Begitu juga kejadian di hari kedua, beliau kembali miskin lagi karena yang di sedekahkan nabi hanya cukup untuk satu hari. Di hari ketiga beliau meminta lagi ke nabi muhammad, lantas nabi mengajaknya berdagang karpet.

Jika nabi adalah sebuah kepala pemerintahan di masa itu, bagaimana kepala pemerintahan sekarang mengentaskan kemiskinan?

Tepat, BLT. Kertas sakti yang katanya bisa menanggulangi angka kemiskinan yang meroket, gilak yah tuh orang. Katanya dosen UI, jadi malu gue sebagai anak UI.

Kemiskinan itu bukan untuk diberantas! Tapi ditanggulangi! Diberantas itu artinya melakukan tindakan2 short term cari jalan pintas untuk menghilangkan kemiskinan. Kalau era hitler itu diberantas artinya dibunuh exekusi bareng2 biar matek. Mungkin kalo era sekarang dikasih dana BLT ngeberatin negara.

Ditanggulangi itu dirangkul, ditanya kenapa masalahnya dimana dan baru dicarikan solusi atas permasalahannya. Masalah orang indonesia itu cuma satu BBM.

Listrik tergantung harga BBM. Transportasi tergantung BBM. Otomatis harga pangan tergantung BBM. Tuh, dua sektor itu aja dicari alternatif.

Yang pertama tingkatkan aja infrastruktur listrik menggunakan teknologi yang mahal dikit tapi itu worth kok. Daripada kegantung ke harga BBM.

Setelah naik infrastruktur listrik. Tinggal ganti seluruh transportasi menggunakan listrik. See gak susah kan? Cukup dalam waktu 5 tahun semuanya dah baik.

Kapan sih orang gedongan di gedung pemerintahan mo mikir?

Mikir donk ah!

Bagi Kebangkitan Bangsa!

May 26th, 2008 by Zhar Aditya (0) Good bye Psychosist

Mari menonton?acara ini sebentar yok!

Today’s Dialogue tanggal 13 MAy 2008

Penting nih!

Click disini

Renungan Masyarakat Pinggiran dan BBM

May 23rd, 2008 by Zhar Aditya (0) Good bye Psychosist

Pagi-pagi sekali, masyarakat pinggiran seperti gue ini harus bangun lebih pagi daripada orang kota. Kami biasanya bangun sekitar jam 4.30 untuk pergi sekolah atau untuk pergi bekerja. Orang kota mungkin akan bingung bagaimana kami bisa bangun pagi sekali, mandi pagi sekali, dan berangkat pagi sekali.

Disalah satu hari-hari yang pagi itu, setelah diumumkannya banyak jargon dan “tipu daya” pemerintah mengenai bbm; Subsidi yang tidak tepat sasaran; Subsidi yang dinikmati orang kaya. Apa gue termasuk salah satu orang kaya itu ya? Memang orang tua saya punya rumah, mobil dua, bahkan gue sendiri pake mobil itu. Tapi apa gue orang kaya ya? Bukankah gue punya mobil karena gue tinggal dipinggiran dimana angkot hanya ada satu jenis dan untuk mencapai depok diperlukan 3x ganti angkot. Untuk mencapai blok M harus 2x angkot. Yang memang udah gue jalanin sejak SMA. Jadinya yah gue beneran bersyukur bisa beli mobil meskipun itu juga belinya dah mpot mpotan. Tapi apa memang gue ini orang kaya?

Banyak yang bilang, “BBM-subsidi-yang-sebenarnya-juga-bohong-bukan-subsidi” itu dinikmati banyak orang kaya. Tapi gue jarang banget ngeliat orang yang beneran kaya masih beli bensin di pertamina. Males lah mereka, mendingan beli di shell lah mereka. Ada prestisenya!

Jadi inget waktu jaman kuliah gue mencoba memetakan segmenting produk imitasi (imitasi tas) dan produk original. Produk asli dilayani dengan ramah sekali, belinya memang mahal sekali bisa mencapai 12x harga tas palsu. Tapi meskipun ada tas palsu orang kaya tetap membeli tas asli. Orang miskin gak bisa beli tas. Dan orang menengah membeli tas palsu. Ngerti maksud gue dan hubungannya dengan bbm?

Kalau tas aja bisa begitu segmented. Masa sih bensin juga gak bisa di segmentasi kan? Pembeli mobil Mercy dan BMW gak mungkin kan beli premium. Pembeli mobil entrant level kayak gue ini yang pasti beli di premium. Bukankah dunia otomotif sendiri juga sudah memetakan segmentasi kemampuan membeli BBM di octan tertentu?

Dengan banyaknya demo yang dilakukan oleh kaum yang disebut “mampu” oleh pemerintah masih mau mengatakan rakyat indonesia banyak yang mampu?

Orang gila!

Setelah semua dihargai diatas BBM pemerintah dengan gilanya langsung main naikin harga BBM.

Pak SBY, Saya tanya, mana yang lebih penting!

Rakyat dalam negeri

Atau Hubungan Internasional?

Kalau rakyat dalam negeri, maka pangkas saja biaya hubungan internasional di negara yang tidak perlu. Sisakan negara importir kita saja.

Selalu ada cara lain pak!

Kemana aja seh lu!

PS:

Kalo aja dikasih kesempatan jadi presiden yang pertama gue lakukan adalah audit internal ke BUMN dan Departement. Banyak banget pemborosan asal kayak OKB yang dilakukan mereka.

PS2:

Dapet bocoran tentang blue energy.

Oh, ternyata begitu yah cara kerjanya. Siapa yang sangka menggunakan tenaga panas, dingin, dan matahari.

Adult Ignorances

May 5th, 2008 by Zhar Aditya (4) Good bye Psychosist

Jakarta at Night

Kemarin gue sama keluarga besar jalan-jalan sampe malem. Sesudah nonton forbidden kingdom (filmnya biasa aja) kita makan di food festival kemang.

Sebenernya dari dulu gue perhatiin kehidupan anak muda jakarta ini emang aneh banget. Mulai dari ngerokok sebelum waktunya, minum sebelum waktunya dan pergi ke diskotik sebelum waktunya. Dilihat dari sisi gue yang melakukannya jauh diatas setelah waktunya hal ini bener-bener aneh.

Jakarta Night life

Mungkin orang tua di Indonesia tidak ada yang tau tentang sexual predator. Gue yakin dengan situasi di kemang begitu. Kalo gue masih single, at?least gue bisa dapet nomor 1 atau 2 lah. Dengan ABG kemungkinan nomor yang bisa gue dapetin makin tinggi karena mereka masih doyan coba-coba dan blum ngerti bahayanya dari ngasih nomor ke orang lain.

Di amerika sendiri keberadaan sexual predator ini sangat mengkhawatirkan. Namun, kenapa masih banyak orang tua yang membiarkan anaknya pergi ke club malam secara routine? Bahkan memberinya cukup uang untuk mabuk dan membeli substance yang addictive?

Hal lain yang dapat dijadikan renungan terhadap rendahnya concern para orang tua di Indonesia adalah dari adanya acara-acara dangdut liar di kampung-kampung yang bentuknya malah mirip jadi striptease liar yang bisa dilihat siapapun. Di setiap kamera yang gue liat di acara dangdut liar ini pasti ada banyak anak kecil. Mereka sambil tersenyum senyum malu. Ada juga yang biasa aja ngeliat dangdut model begini kayak om om.

Atau yang lain lagi, adanya ignorances dari pihak bioskop untuk mencegah anak dibawah umur menonton rating 17 tahun ke atas. Memang adegan nude pasti tidak ada. Tapi pasti ada bahasa yang mengarahnya ini. Lembaga sensor yang tidak berguna itu juga tidak bisa melakukan apa-apa. Setelah badan lulus sensor dan dirating 17 tahun keatas lantas tidak ada lembaga yang memastikan film adult rating only be watched by adults.

Jadi pemerintah mencoba menghilangkan pornography di Internet karena paling mudah. TAPI di Dunia nyata kehidupan di negara kita ini lebih parah dibandingkan di Amerika soal striptease yang salah tempat, kehidupan para ABG yang mudah menjadi incaran sexual predator, dan juga anak kecil yang salah tonton dan main game.

This is what I call Adult Ignorances.

Evil prevails when every good man fails to act