Renungan Masyarakat Pinggiran dan BBM

May 23rd, 2008 by Zhar Aditya Good bye Psychosist

Pagi-pagi sekali, masyarakat pinggiran seperti gue ini harus bangun lebih pagi daripada orang kota. Kami biasanya bangun sekitar jam 4.30 untuk pergi sekolah atau untuk pergi bekerja. Orang kota mungkin akan bingung bagaimana kami bisa bangun pagi sekali, mandi pagi sekali, dan berangkat pagi sekali.

Disalah satu hari-hari yang pagi itu, setelah diumumkannya banyak jargon dan “tipu daya” pemerintah mengenai bbm; Subsidi yang tidak tepat sasaran; Subsidi yang dinikmati orang kaya. Apa gue termasuk salah satu orang kaya itu ya? Memang orang tua saya punya rumah, mobil dua, bahkan gue sendiri pake mobil itu. Tapi apa gue orang kaya ya? Bukankah gue punya mobil karena gue tinggal dipinggiran dimana angkot hanya ada satu jenis dan untuk mencapai depok diperlukan 3x ganti angkot. Untuk mencapai blok M harus 2x angkot. Yang memang udah gue jalanin sejak SMA. Jadinya yah gue beneran bersyukur bisa beli mobil meskipun itu juga belinya dah mpot mpotan. Tapi apa memang gue ini orang kaya?

Banyak yang bilang, “BBM-subsidi-yang-sebenarnya-juga-bohong-bukan-subsidi” itu dinikmati banyak orang kaya. Tapi gue jarang banget ngeliat orang yang beneran kaya masih beli bensin di pertamina. Males lah mereka, mendingan beli di shell lah mereka. Ada prestisenya!

Jadi inget waktu jaman kuliah gue mencoba memetakan segmenting produk imitasi (imitasi tas) dan produk original. Produk asli dilayani dengan ramah sekali, belinya memang mahal sekali bisa mencapai 12x harga tas palsu. Tapi meskipun ada tas palsu orang kaya tetap membeli tas asli. Orang miskin gak bisa beli tas. Dan orang menengah membeli tas palsu. Ngerti maksud gue dan hubungannya dengan bbm?

Kalau tas aja bisa begitu segmented. Masa sih bensin juga gak bisa di segmentasi kan? Pembeli mobil Mercy dan BMW gak mungkin kan beli premium. Pembeli mobil entrant level kayak gue ini yang pasti beli di premium. Bukankah dunia otomotif sendiri juga sudah memetakan segmentasi kemampuan membeli BBM di octan tertentu?

Dengan banyaknya demo yang dilakukan oleh kaum yang disebut “mampu” oleh pemerintah masih mau mengatakan rakyat indonesia banyak yang mampu?

Orang gila!

Setelah semua dihargai diatas BBM pemerintah dengan gilanya langsung main naikin harga BBM.

Pak SBY, Saya tanya, mana yang lebih penting!

Rakyat dalam negeri

Atau Hubungan Internasional?

Kalau rakyat dalam negeri, maka pangkas saja biaya hubungan internasional di negara yang tidak perlu. Sisakan negara importir kita saja.

Selalu ada cara lain pak!

Kemana aja seh lu!

PS:

Kalo aja dikasih kesempatan jadi presiden yang pertama gue lakukan adalah audit internal ke BUMN dan Departement. Banyak banget pemborosan asal kayak OKB yang dilakukan mereka.

PS2:

Dapet bocoran tentang blue energy.

Oh, ternyata begitu yah cara kerjanya. Siapa yang sangka menggunakan tenaga panas, dingin, dan matahari.

Leave a Reply (Ayo donk, Koment!)

Posts yang mungkin berhubungan: